Showing posts with label Misteri. Show all posts
Showing posts with label Misteri. Show all posts

Tuesday, June 21, 2016

Unknown

Hilanglah Separuh Nyawaku

Sore itu, bersamaan dengan kumandang Adzan salat Ashar, Aku terbangun dari siumanku. Cahaya lemah di ruangan itu sudah cukup untuk menyilaukan kedua mataku yang baru tersadar dari operasi kuret yang barusan ku jalani. Operasi kuret? Tak terasa air mataku mengalir hangat menuruni pelipis dan jatuh ke bantal putih, tempatku masih terbaring sendiri. Dingin dari AC ruang operasi seolah mulai terasa perlahan merayap naik dari kaki, lalu kepaha, ke perut dan akhirnya mulai datanglah nyeri. Nyeri yang hanya bisa dirasakan kala para perempuan yang harus rela rahimnya dikorek, dibersihkan dengan besi peralatan operasi.
Namun rasa nyeri itu tak sebanding dengan sakit yang teramat sangat, karena janin penghuni rahimku yang selama enam bulan ini dijaga, disayang-sayang, akhirnya mati dan ke luar hanya menjadi sesosok mungil bayi merah yang tak bernyawa lagi. Sakit yang tak bakal terobati, karena bayi yang selama 7 bulan ini berdegup bersama irama jantungku, harus meninggal dan dikeluarkan dengan cara operasi. Dan hanya butuh 1 jam 25 menit di meja operasi, untuk menghentikan proses perjuanganku selama 7 bulan membesarkan janin di rahimku yang kini tinggal jasad dingin tak bernyawa dibalut kain putih untuk dimakamkan.
Aku masih sendiri, terbaring lemah di meja operasi, menunggu untuk dibersihkan dan dipindahkan ke ruang perawatan. Pandangan mataku menyeberang ruang, ku lihat ibu dan ayahku yang menunggu dari balik kaca tembus pandang jendela observasi. Dalam gurat-gurat ketuaannya, mereka berlinang air mata memandangku. Jangan tanyakan di mana suamiku, calon bapak bayiku yang tak jadi. Laki-laki yang menyemai benih di rahimku, yang akhirnya mati sebelum dilahirkan ke muka bumi. Jangan tanyakan karena itu akan lebih membuat nyeri atas dukaku karena kehilangan bayi. Namun jika memang kisah sedihku bisa menjadi pelajaran bagi yang lain, izinkan aku bercerita dengan caraku.
Aku menikahi laki-laki yang menjadi suamiku di usia yang masih sangat muda. Tamat SMA aku langsung dilamar untuk dinikahkan dengan bekas kakak kelasku, yang juga tetangga desaku. Dia anak seorang saudagar kaya, pengusaha penggilingan padi, kopra, dan distributor pupuk ternama dan terbesar di desaku. Aku tak bisa menolak, karena orangtuanya pun juga meminta kepada ayah dan ibuku. Aku tahu, sebenarnya ayah dan ibuku berat hati untuk melepaskanku menikah dengan dia. Mereka terpaksa melakukannya, karena segan dan merasa banyak berhutang budi kepada calon besannya, yang sering membantu memberi pinjaman uang atau beras untuk kebutuhan kami sekeluarga, dan pupuk untuk sawah kami yang luasnya tak seberapa.
Singkat cerita, hanya beberapa bulan setelah pesta pernikahan kami, ku pergoki suamiku bersama perempuan lain yang digandeng tangan olehnya ke luar dari sebuah hotel dan rumah makan di Makassar. Entah mengapa sore hari itu aku ingin melihat keramaian Kota Makassar yang jaraknya lumayan jauh dari desaku. Seolah dituntun aku menuju salah satu Mall yang kebetulan tak jauh dari hotel dan rumah makan di mana suamiku dan perempuan itu menghabiskan akhir pekan bersama. Ya, karena suamiku pamit ke luar kota untuk urusan bisnis sejak hari jumat malam sebelumnya.
Tak perlu ku ceritakan apa yang terjadi, singkatnya aku putuskan menggugat cerai dan dan pulang kembali ke rumah orangtuaku. Persidangan cerai yang melelahkan, karena mertuaku walau malu dengan apa yang terjadi, tak mau melepaskanku. Namun karena keteguhan niatku, akhirnya hakim memutuskan kami bercerai, karena suamiku pun juga mengaku telah berselingkuh dan mengkhianatiku. Ternyata perempuan itu adalah bekas pacar SMP-nya yang baru pulang dari Jakarta. Dan tak lama setelah pengakuannya, ku dengar dia mengikuti pacarnya untuk tinggal di Jakarta.
Kegoncangan batin yang ku alami, ditambah proses persidangan cerai yang memakan waktu dan menyita pikiran, membuatku abai atas pertanda dan gejala perubahan pada badanku. Ternyata aku baru sadar dan mengetahui bahwa aku sudah mulai hamil tepat saat memergoki perselingkuhan suamiku. Ternyata aku sedang hamil saat menjalani persidangan gugat cerai dan selama menjalani keseluruhan prosesnya. Dan aku baru tahu, sehari setelah gugatan ceraiku dikabulkan oleh pihak pengadilan, saat aku periksa ke dokter karena demam dan keluhan pada perutku.
Hari itu, duniaku serasa terguncang lebih keras lagi dari sebelumnya, demi mengetahui kenyataan ini. Namun ku kumpulkan sisa-sisa semangat hidupku untuk menerima kenyataan bahwa aku mengandung benih orang yang pergi mengkhianatiku, lalu mempersiapkan diri menerima kehadiran bayiku. Hari itu adalah 4 bulan yang lalu. Awal dari perjuanganku untuk bangkit dari prahara yang menimpaku sekaligus awal perjuanganku sebagai perempuan yang mengandung bayi yang ditinggalkan bapaknya yang memilih pergi bersama cinta lamanya.
Ku lihat kanan kiriku berbaring di meja operasi. Dalam pikiranku sekelebat terlintas pikiran untuk bunuh diri saja menyusul bayiku yang meninggal prematur di rahim rapuhku. Ada bermacam pisau operasi yang bisa ku pakai memotong nadiku. Ada berbagai macam obat-obatan yang bisa meracuni dan membunuhku seketika. Saat pikiranku untuk bunuh diri menguat, pandangan mataku kembali bertemu dengan pandangan ayah ibuku dari jendela kaca ruang observasi di samping ruang operasi.
Pandangan mata yang penuh dengan kesedihan sekaligus kelegaan sepasang orangtua yang menyaksikan aku anaknya selamat dari pendarahan yang hebat yang mengantarkanku ke meja operasi sekaligus melepaskan bayiku kembali kepada penciptanya. Pandangan mata berharap seolah memohon maaf berikut permohonan padaku untuk kembali kepada mereka. Kembali hidup dan kembali menjadi anak tunggal mereka, satu-satunya harta berharga yang mereka miliki di dunia.
Sambil memandangi mereka, ku bisikkan sebuah permohonan kepada Tuhan di dalam hati. “Baiklah Tuhan, aku terima hidupku yang kau berikan kembali pada hari ini. Aku ikhlaskan juga sebagian nyawaku yang kau ambil dariku hari ini. Tapi tolong sampaikan kepada anakku, bahwa aku sangat mencintainya seperti orangtuaku mencintaiku. Dan aku akan membalas cinta mereka, agar aku bisa bertemu dengan anakku yang menungguku dengan bangga di rumah terindahMu nantinya.”
Hilanglah Separuh Nyawaku


Sumber: Cerpenku
Read More

Thursday, June 16, 2016

Unknown

Si Pemuja Setan

“Ibu, lihatlah Anna mendapat hadiah.”
Aku menatap ke arah anak ku yang kini tengah berdiri di hadapanku sambil membawa kotak berwarna merah.

Tangan ku terjulur ke arahnya, membawa tubuh mungilnya kedalam pangkuanku. Aku menatap hadiah yang ada di tangan Anna bingung, pasalnya kami baru saja pindah ke rumah ini, rasanya aneh kalau tiba-tiba ada yang memberi hadiah pada anak ku.

“Kamu mendapatkannya dari siapa Anna?” Tanyaku padanya. Anna tidak langsung menjawab pertanyaan ku, ia malah terlihat gelisah, terlihat dari caranya mengayun-ayunkan kakinya.

“Kakak itu bilang kalau aku tidak boleh memberi tahu siapa-siapa,” Jawabnya sambil menundukan kepala.

Kakak siapa yang dimaksudkan oleh Anna? Kenapa aku merasa tak enak hati, aku merasa takut akan terjadi sesuatu dengan anak ku. Aku memeluk Anna erat, tanpa sadar airmata telah membasahi pipiku.

“Anna, berjanjilah pada Ibu, kamu tidak akan meninggalkan Ibu,” Ucapku sambil terus memeluknya erat. Anna hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil terus berkata Ibu jangan menangis saat ia mendengar suara isakan yang kucoba tahan sebisa mungkin.

Keesokan harinya saat aku bangun tidur aku sudah tak mendapati Suami ku yang biasanya masih terlelap di sampingku. Aku beranjak bangun dan keluar dari kamar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.

Rumah ini terasa sangat sepi dan juga terasa mencekam, aku merasa seperti ada yang tengah memperhatikan gerak gerik ku. Sejujurnya aku sudah merasa tak nyaman sejak pertama kali melihat rumah ini, rumah ini seperti menyimpan banyak misteri, apalagi katanya rumah ini berhantu, aku tahu tentang itu dari orang di sekitar sini saat aku tengah membeli bahan pangan kemarin sore.

Langkah ku terhenti saat mendengar suara tawa di kamar anak ku, aku lantas mendekat ke arah kamar itu dan mendekatkan telinga ke pintu, mencoba mencuri dengar suara apa itu sebenarnya.

“Hahah … kakak curang, ugh hentikan kak, hahah … geli,”

Kening ku berkerut bingung. Anna sedang bercanda dengan siapa?

Tangan ku terjulur hendak membuka pintu, namun…

Grep!

“Kenapa kau ada di sini sayangku?” Tanya sebuah suara sambil memeluk ku dari belakang. Aku kenal suara ini, ini adalah suara Suamiku. Membalikan badan, aku lantas menemukan wajah tampan suamiku yang tengah menyunggingkan senyum menawan.

“Aku hanya penasaran, Anna sedang bercanda dengan siapa?”

Aku melihatnya mengernyitkan kening, lalu ia pun melepas pelukannya dariku. Tangannya terjulur ke arah gagang pintu kamar Anna lalu membukanya. Suara derit yang terdengar saat pintu itu terbuka membuat suasana menjadi terasa mencekam. Jantungku sudah berdetak kencang. Menanti apa yang akan aku temukan di dalam kamar Anna.

Pintu terbuka sepenuhnya. Kami melangkah masuk ke dalamnya. Di atas kasur aku melihat Anna yang masih tertidur. Ini tidak mungkin. Jelas-jelas kalau tadi aku mendengar suara Anna yang tengah tertawa entah dengan siapa. Aku mendekat ke arah Anna, mengguncang tubuhnya pelan agar ia terbangun. Posisi tidurnya yang membelakangi ku membuatku tak bisa melihat wajahnya.

Aku terus mencoba membangunkannya tapi Anna tak juga bangun, tidak seperti biasanya. Padahal biasanya ia akan sangat mudah untuk dibangunkan. Aku mulai khawatir. Aku pun membalikan tubuhnya kearahku dan betapa kagetnya aku saat melihat wajah Anna dipenuhi luka sayatan. Darah menetes-netes dari luka sayatan itu. Aku memandangi luka itu dengan pandangan ngeri.

“ANNA!”

Aku berteriak kencang memanggil nama Anna sambil terus mengguncang tubuhnya yang mulai mendingin. Anna ku meninggal!

Aku menagis sejadi-jadinya. Mengabaikan suara suamiku yang entah mengatakan apa. Aku tak mau tahu! Anna ku, dia anak ku … dia harta berhargaku! Mengapa tuhan begitu kejam dengan mengambil Anna dariku!

Tanganku terjulur untuk menghapus darah yang terus menetes dari luka Anna. Pelan, sangat pelan. Aku takut Anna akan merasakan sakit jika aku menghapus darah itu dengan kasar. Padahal aku tahu, Anna ku sudah tak bernyawa lagi!

“Hahah … kenapa kau menangis istriku?”

Aku tercengang saat mendengar suara suamiku. Aku membalikan badan ke arahnya. Aku terkejut saat melihatnya tengah berdiri sambil memegang pisau daging. Matanya berkilat penuh bahaya. Senyumnya membuatku bergidik ngeri. Entah sejak kapan ia berganti baju dengan baju hitam terusan yang ada penutup kepalanya. Ia terlihat menyeramkan dengan dandanan seperti itu. Ia sudah mirip seperti pemuja setan.

“Ada apa dengan mu?” Tanyaku padanya.

Suamiku diam saja tak menjawab pertanyaan ku. Saat aku akan melangkah mendekatinya kedua kakiku tak bisa ku gerakan seakan ada yang menariknya dari bawah agar aku tak bisa pergi kemana-mana.

Aku menundukan kepala, melihat ke arah kedua kakiku saat aku merasakan nyeri di bawah sana. Aku menjerit saat melihat ada dua pasang tangan yang muncul dari lantai. Kedua pasang tangan itu memegang pisau kecil yang terlihat sangat tajam dan tangan-tangan itu terus menggores sepasang kaki ku.

Aku menangis semakin kencang saat ku rasakan pisau-pisau tajam itu tertancap di kaki ku, setelah menancapkan pisau tajam itu dua pasang tangan tadi langsung menghilang. Aku menjerit, melolong, meminta tolong pada suamiku, tapi bukannya menolong ia malah tertawa seakan apa yang tengah di saksikannya ini merupakan acara lawak yang sering di tontonnya.

“Siapa kau? Suamiku tidak akan berlaku kejam seperti ini,” Tanyaku padanya sambil melemparkan tatapan penuh benci padanya. Ia hanya tertawa dan terus tertawa. Suara tawanya semakin kencang dan membuat kedua telingaku berdenging. Saat aku menutup kedua telingaku dengan tangan, aku merasakan ada cairan yang keluar dari telingaku dan saat aku melihatnya ternyata itu adalah darah.

Aku harus pergi! Tapi kemana? Tidak mungkin jika lewat pintu. Aku harus melewati makhluk yang mirip dengan suamiku itu terlebih dahulu untuk bisa keluar. Tapi itu tak mungkin! Naman itu kan jalan satu-satunya untuk aku bisa terbebas dari makhluk itu. Oh tuhan, aku harus bagaimana?

Lagipula aku tak mungkin meninggalkan Anna. Jika aku keluar maka Anna pun harus ikut keluar bersama ku.

Aku menatap tepat pada kedua bola mata makhluk itu lalu berjalan mendekatinya. Aku tahu ini tindakan gila, secara tidak langsung aku telah menyerahlan diri untuk dibunuh olehnya. Tapi aku tak tahu harus apa, aku pasrah jika memang makhluk itu ingin membunuh ku. Aku melangkah dengan tertatih karena luka di kakiku terasa begitu menyakitkan setiap kali aku mencoba untuk menggerakannya. Makhluk itu menyeringai melihatku melangkah samakin dekat dengannya.

Saat aku sudah berdiri tepat tiga langkah darinya aku langsung berhenti melangkah. Senyum menyeramkan itu masih tertoreh di kedua belah bibirnya. Lalu dengan penuh keberanian aku mengatakan.
“Bunuhlah aku”

Seringaian di bibirnya semakin melebar saat mendengar perkataan ku. Sekilas aku melihat matanya berubah menjadi warna merah darah.

“Kau sangat berani istriku. Oleh karena itu aku akan memberikan kotak merah ini untuk mu. Kau senang bukan?”

Aku terkejut saat melihat kotak merah itu. Itu merupakan kotak merah yang pernah diperlihatkan oleh Anna padaku.

“Itu … kotak itu, kau dapat darimana?” Tanyaku sambil menunjuk ke arah kotak merah yang tengah di pegangnya. Oh tunggu. Bukankah tangan kanannya tadi memegang pisau daging? Kenapa sekarang ia malah memegang kotak merah itu?

Ia mengabaikan pertanyaan ku dan malah menyodorkan kotak merah itu padaku. Aku mengambilnya dengan tangan yang gemetaran. Ku buka kotak itu perlahan dan …

BUM

Semuanya berubah menjadi gelap. Aku tak bisa melihat apapun.

“ARGGHH”

Aku menjerit kencang saat merasakan rasa perih di pipiku. Aku tak bisa melihat apapun, yang bisa kulihat hanyalah warna hitam, semuanya gelap.

Kembali kurasakan rasa perih di kening ku, sampai sesuatu yang dingin menyentuh permukaan leher ku. Napas ku sudah tak beraturan, air mata terus berjatuhan. Aku tak tahu apa kesalahan ku. Sampai sebuah ingatan terlintas di pikiranku. Saat ada seseorang yang mengatakan kalau suamiku adalah pemuja setan dan suatu hari nanti aku akan menjadi korbannya. Aku yang mendengar itu tentu saja tidak percaya karena yang aku tahu suamiku terlalu baik untuk menjadi seorang pemuja setan, tapi sepertinya itu benar dan inilah bukti kalau suamiku memanglah pemuja setan. Mungkin dia jugalah yang telah membunuh Anna. Membunuh Anna dengan kekuatan setannya.

Benda dingin yang aku yakini adalah pisau daging itu semakin menekan leherku, aku pun bisa merasakan nyeri yang luar biasa karenanya. Mungkin leherku sudah berdarah sekarang.

“Kau tahu istriku? Rumah ini adalah tempat aku melakukan ritual pemujaan. Seharusnya kau percaya pada orang bodoh yang memberi tahumu waktu itu, tapi karena kau lebih bodoh dari orang bodoh itu, jadi wajar saja jika kau tetap percaya padaku”

“…”

“Sekarang kau akan menjadi korban ku yang berikutnya, hahahah”

“…”

“Kenapa kau diam saja istriku? Ups aku lupa. Kepala mu saja sudah terpisah, bagaimana kau bisa membalas perkataan ku coba? Hahahah”

“…”

“Selamat tinggal istriku!”

Si Pemuja Setan


Sumber: Cerpenku
Read More

Wednesday, March 23, 2016

Unknown

Bermimpi Petak Umpet

Cerita ini tentang adik kecilku, yang saat itu masih kelas 4 Sekolah Dasar. Saya masih di Sekolah Menengah, dan kakak ku baru saja masuk ke sekolah kejuruan. Kakak ku berada di sekolah penerbangan jadi dia jarang di rumah, sedangkan saya adalah anggota dari klub atletik sekolah jadi saya selalu lari pagi tiap hari.
Suatu hari di musim panas, saya bangun cepat seperti biasanya tapi adik kecilku, yang seharusnya masih tidur di bawah ranjangku, ranjang kami ranjang susun, sudah tidak di kasurnya. Saya pikir dia ke kamar kecil, jadi saya keluar tanpa memikirkan nya lagi. Tapi kemudian, saya menemukan nya tertidur di lantai di luar kamar kami. Saya membangunkannya sebelum pergi lari pagi. Ketika aku memikirkan nya lagi, aku baru sadar bahwa pintu kamar kami terkunci ketika saya keluar.
Dari hari itu dan seterusnya, adikku sering menghilang, dan tiap kali ditemukan sudah berada di suatu tempat dalam rumah kami. Walau dia tidak pernah keluar, dia selalu ditemukan bersembunyi di bawah meja, atau di sebuah tempat yang sempit di lemari.
Kami sudah melupakan semua tentang itu ketika di malam tahun baru, kami berkumpul dan bercanda-tawa tentang kenangan-kenangan bersama keluarga kami. Ibu mulai bercerita, “Kalian semua pernah berjalan mimpi.”
Saya bahkan tidak ingat kapan saya pernah berjalan dalam mimpi dan saya juga tidak tahu kapan kakak ku pernah begitu. Tapi tiba-tiba saya mengingat sesuatu. Saya menanyakan nya kepada kakak ku.
“Saat kau masih kecil, pernahkah kau bermimpi mimpi yang sama terus-menerus? Mimpi tentang bermain petak umpet?”
“Ya, jika saya tidak salah ingat, saya pernah bermimpi seperti itu ketika masih di sekolah dasar”.
“Terus anak yang bersamamu, apakah dia juga mengajakmu untuk ikut dengannya?”
“Maksudmu, ke pinggir sungai? Saya tidak pernah mengikutinya.” jawab kakak.
“Saya juga. Saya menolaknya. Tapi apakah kemudian dia mengatakan sesuatu? Seperti…” tanyaku lagi.
“Baik, tidak apa-apa. Aku akan membawa adikmu nanti.” saya dan kakak serempak mengatakannya.
Saya rasa di saat itulah saya berhenti memimpikan nya lagi. Bulan depan genap 13 tahun sejak adik kecil kami meninggal dunia. Suatu pagi di bulan Desember, saya pulang ke rumah dari lari pagi dan menemukan sebuah mobil ambulance terparkir di depan rumah kami. Ibu menemukan adik ku di kasurnya, sudah terbujur kaku.
Bermimpi Petak Umpet

Saya tidak tahu apakah adik kecilku bermimpi yang sama dengan kami. Apakah dia mengikuti anak itu ke pinggir sungai? Atau apakah karena dia yang paling kecil di antara kami? Atau mungkinkah dia meninggal karena suatu penyakit yang belum diketahui?
Saya memutuskan tidak memberitahu orangtuaku tentang hal ini. Ini adalah rahasia yang hanya saya dan kakak yang tahu.
Read More

Monday, March 21, 2016

Unknown

Penunggu Bis Berdarah

Hai, perkenalkan namaku suci indah sari biasa dipanggil indah tapi terserah mau dipanggil apa saja karena itu gak penting. Di kiriman aku yang ke-6 ini aku akan menceritakan kisah imajinasiku.

Aku sedang dalam perjalanan ke rumah dengan bis malam. Kulihat seorang kakek tua naik dan menawarkan buku-buku pada penumpang. "bukunya nak? Ada macam macam nih silat, agama, cinta-cinta pokoknya banyak dek" ujar si kakek. Aku yang sedang tak bisa tidur pun tertarik. "ada buku horor gak kek?" tanyaku. "oh suka cerita horor ya? Kebetulan sisa satu, pas lagi ceritanya tentang bis yang ditinggali banyak arwah penasaran judulnya "penunggu bis berdarah" seram pokoknya" ujarnya. "boleh juga tuh, berapa harganya?" tanyaku. "Rp 95.000, nak" katanya. "wow, mahal banget kek" kataku kaget. "ya namanya juga buku best seller. Semua yang baca buku ini kabarnya syok loh waktu baca endingnya" si kakek promosi ala salesman.



Penunggu Bis Berdarah

Aku pun mengalah, entah kenapa pada saat aku serahkan uang tersebut ke kakek, tiba tiba petir menggelegar. Angin mulai bertiup kencang. Si kakek turun dari bis, namun tiba-tiba berhenti dan menolehkan wajahnya pelan pelan ke aku. "nak" ujarnya lirih "apapun yang terjadi harap jangan buka halaman terakhir. Kalau tidak nanti kamu akan menyesal dan saya tidak mau bertanggung jawab" peringatnya.

Jantungku berdegup kencang, saking takutnya aku sampai tidak mampu menganggukan kepala hingga si kakek turun dari bis dan menghilang ditelan kegelapan.

Pada saat tengah malam aku selesai membaca seluruh buku tersebut, kecuali halaman terakhir. Memang benar seperti yang dikatakan si kakek buku itu benar-benar menegangkan menyeramkan.

Bis melaju kencang, kilat menyambar bergantian, dan terdengar suara guruh menggelegar. Aku melihat sekeliling ternyata semua penumpang sudah terlelap. Bulu kuduk ku merinding. "baca halaman terakhir gak ya?" pikirku bimbang. Antara penasaran dan takut berbaur jadi satu. Di luar malam tampak makin gelap. "ah sudahlah, sekalian saja nanggung" dengan tangan gemetar aku pun membuka halaman terakhir buku tersebut secara perlahan. Setelah terbuka semuanya terdapat sebuah tulisan darah "bangkitlah semua jiwa-jiwa yang ada disini" hanya kata itu yang tertulis.

Tiba-tiba hawa menjadi dingin dan mencekam. Terdengar suara geraman di seluruh bangku bus kecuali aku. Kulirik, semua penumpang berwajah pucat dan menatap marah padaku. Mereka menghampiriku. Secara bersamaan tangan-tangan dingin itu mencekik. Seketika semuanya gelap.

Aku merasakan jiwaku sangat ringan. Aku melihat tubuhku terbaring kaku di kursi. Di buku itu terdapat tulisan baru "kini kamu telah menjadi bagian dari jiwa-jiwa di bis ini".
Read More

Saturday, March 19, 2016

Unknown

Suara Aneh

Hai penggemar cerita-hantu.com kenalkan namaku Floya. Panggil saja Flo! ini adalah kisah nyata satu tahun lalu. Saat itu aku masih kelas 3 SMA, tepatnya saat malam minggu. kebiasaanku berkumpul bersama teman di depan rumah, ngobrol kesana kemari sampai larut. Namun malam ini sedikit berbeda, mungkin karena mendung dan ditambah semilir angin membuat bulu kuduk merinding.
Sebenarnya aku merasa ada yang memperhatikan dari atas pohon (di depan rumahku ada pohon chery yang cukup besar), aku tentu tidak memperdulikannya. Sampai akhirnya ada yang melempar sebuah batu kecil ke arah kami dari samping rumah, kami spontan terkejut dan menoleh dari mana arah batu tersebut, tapi sepi tidak ada orang.
aku: “siapa?”
………. (hanya suara jangkrik yang aku dengar).
Kami tak lagi mengobrol, lalu aku mencairkan suasana pada saat itu.
aku: “hehe, sudah itu paling paman. beliau suka godain aku”
dewi: “diem deh flo, coba kamu ketawa lagi”
aku: “hehehe, apa an sih?” (setiap aku tertawa ada juga yang tertawa, diatas pohon).
Kami mulai tak tenang. kemudian suara tawanya makin keras, lalu ada yang melempar batu kecil lagi. Kali ini lebih banyak, jujur aku jadi takut. Saat itu waktu menunjukan jam 00:15 WIB. Dewipun berpamitan, karena takut dia minta diantar, rumahnya tak seberapa jauh sekitar 70 meter.
Suara Aneh

Jalan kami awalnya lambat, pas disamping pohon ada yang tertawa kencang. Tepat di telinga kami, aaa… lari. Kami lari, aku menoleh ke belakang dan aku melihat ada wujud seperti seekor babi hitam. Memiliki sayap, dia (babi) berlari mengikuti kami. Tapi beberapa detik wujud itu hilang, entah terbang atau kemana.
Sampai sekarang, terkadang tawa (Suara Gaib) itu masih sering terdengar. Tapi aku mulai terbiasa, maaf kalau cerita pertamaku kurang seram, tapi ini nyata. Mereka ada dan mereka hanya ingin ikut ambil bagian kecil di hidup kita
Read More

Friday, March 18, 2016

Unknown

Hantu si Tukang Ojek

Nama aku dukhan, aku mau ceritakan kisah misteri yang aku alami. Langsung aja yah, kejadian nya hari kamis tahun 2000 saat itu aku masih kelas 2 smp. Aku bersama saudara saudaraku berniat pulang sehabis silaturahim ke rumah saudaraku di cicayur tanggerang. Saat itu pukul 5:30 sore, aku berangkat ke stasiun cicayur bersama saudara saudaraku jalan kaki dan agak jauh jaraknya ke stasiun.
Ketika itu posisi langit agak gelap karena hawa nya mendung mau magrib pula, saat itu cicayur masih kebon dan banyak pohon bambu dan jarak rumah warga juga jauh, gak rapat kayak sekarang. Kira-kira 500 meter lagi dari stasiun ada satu rumah yang di depan nya ada pohon kecapi dan pohon manggis yang posisinya memang ada di pinggir jalan.
Aku bersama saudara saudaraku jalan sambil ngobrol, begitu juga nyokap ngobrol juga sama tante, sekilas dari kejauhan aku gak merasa ada yang aneh di sekitar rumah ini. Namun ketika jarak sekitar 10 meter tiba tiba yang tadinya kita pada sibuk ngobrol tiba tiba semua pada diam gak ada suara termasuk aku juga diem.
Karena ada sesuatu yang tiba tiba muncul di bawah pohon kecapi, sumpah nih bibir gak bisa ngucap cuma bisa nunduk sambil jalan pelan pelan karena tepat di bawah pohon kecapi ada pocong berdiri dengan muka rusak penuh darah, begitu juga bagian badan nya darah semua sampai kain kafan merah semua.
Kita semua tetap jalan ngelewatin nih pocong sampai akhirnya kita tiba di stasiun tanpa ada yang ngomong sama sekali. Baru pas sampai rumah semuanya pada cerita karena aku kira hanya aku saja yang lihat tuh pocong, ternyata semuanya lihat. Beberapa hari kemudian saudaraku yang di cicayur telepon nyokap tanya keadaan. Terus nyokap cerita ke saudaraku yang disana.
Hantu si Tukang Ojek

Ternyata eh ternyata itu yang kita semua lihat itu tukang ojeg yang ke tabrak kereta api dan rumahnya memang disitu, cukup sekian cerita dariku terima kasih.
Read More
Unknown

Teror si Jubah Hitam

Hai friend, perkenalkan namaku suci indah sari biasa dipanggil indah tapi terserah kalian mau manggil apa karna itu gak penting. Di kiriman aku yang ke-5 ini seperti biasa aku akan menampilkan kisah imajinasi aku karna aku suka sekali melamun. Ok tanpa banyak bicara lagi kita mulai ceritanya.

Pagi yang cerah, aku sudah sampai di sekolah. Tapi tumben satpam sekolah belum membukakan pintu padahal sekarang sudah jam 6.15 pagi. Aku segera membuka kunci karna kebetulan tidak digembok.

Setelah berkeliling sekolah suasana sangat sepi sekali, lalu kurasakan ada yang memegang pundak ku. Saat aku menoleh ternyata itu pak satpam. "ih bapak! Ngagetin aja" kataku sebal. "maaf dek, ng.. Ngapapin disini? Bukan nya hari ini libur?" tanya pak satpam. "oh libur! Pantesan suasananya sepi gini, maaf ya pak kemarin saya gak masuk jadi gak tau" ucapku. "gak apa-apa dek, mendingan adek pulang saja bahaya!" suruh pak satpam. Aku mengangguk lalu berjalan pergi. Aku masih bingung apa maksud pak satpam? Kenapa dia bilang bahaya? Ah, sudahlah. Saat aku lagi nungguin mobil jemputan, ada sms dengan no gak dikenal berisi "cepat kembali ke sekolah bila ingin melihat hal yang menarik".

Karena penasaran aku langsung berlari masuk ke sekolah, aku terkaget saaat kulihat pak satpam jatuh tersungkur dan disampingnya terdapat jubah hitam sedang mengangkat kapaknya tinggi-tinggi.

Aku tak bisa dengan jelas melihat wajahnya karena dia membelakangiku. Aku segera berlari, kutengok ke belakan jubah hitam itu mengejarku. Dia tidak bermuka. Aku masuk ke ruang guru dan langsung mengunci pintu.

Kulihat jubah hitam itu melayang hampir sampai kesini. Aku mengumpat di kolong meja, tiba-tiba ada yang menepuk pundak ku. Seketika badanku kaku, aku tak mampu menengok ke belakang. "hei, tenanglah" bisik seseorang dibelakang ku itu dan ternyata bagas pacarku. "gas! Kok ada disini?" tanyaku sambil berbisik juga. "aku juga gak tau hari ini libur" jelasnya. 



Teror si Jubah Hitam

Tiba-tiba terdengar ada yang membongkar pintu guru dan jubah hitam itu masuk. Keringat dingin keluar dari dahiku. "tahan nafas, dia gak punya wajah tapi dia bisa mencium bau" jelasnya. Aku mengangguk lalu tahan nafas. Dengan perlahan lahan kami berjalan melewati jubah hitam itu tapi saat di pintu tak sengaja aku bersin. Jubah hitam itu menengok dan mengangkat kapak, tapi untung saja tak kena. Kami langsung berlari keluar. "mama! Tolong ma!" teriak ku. Bagas membekap mulutku lalu menarik ku masuk ke kelas kami.

Dikelas sangat gelap walau matahari di pagi ini cerah tapi karena ada gorden yang menutupi jadi gelap. Ditengah sunyi itu aku berbisik "gas, kok gelap banget sih". Tapi tak ada sahutan dari bagas. "gas..! Bagas! Kamu dimana" kataku setengah berbisik. Tiba-tiba lampu menyala dan kulihat diseluruh ruangan hanya ada jubah hitam dimana-mana. Aku berteriak dan menutup mata, aku berusaha membaca doa apa saja yang aku bisa.

Karena sudah terlalu lama hening aku membuka mata. "Happy Birthday Indah, Happy Birthday Indah, Happy Birthday... Happy Birthday... Happy Birthday.." teriak semua murid temanku dengan memegang topeng dan jubah. Disebelahku ada bagas memegang kue. Aku menangis terharu. "ih kalian bisa aja sih bikin kejutan nya! Menegangkan banget tau buat aku" teriak ku sebal. Mereka semua tertawa. "eh, tapi kok tadi kalian ngancurin pintu ruang guru sih? Terus nyerangnya beneran lagi" tanya bagas. "kita gak ngancurin pintu koq, cumam ngejar-ngejar doang" kata salah satu temanku.

Deg! Seketika kelas jadi hening. "te.. Terus.. Apakah pak satpam ma.. Mati beneran?" tanyaku sambil menunjuk pak satpam yang terkujur kaku dengan darah mengalir di leher, perut, dan kepalanya. Kelas menjadi dingin dan mencengkam.


Lalu kulihat dipojok kelas paling belakang ada 1 jubah hitam dikelilingi oleh asap hitam pekat belum melepas jubahnya. Dia juga mengangkat kapak nya, apa jangan-jangan.. Dia?! Aku menatap takut ke arahnya. Semua mata langsung menuju ke sudut kelas... Dan jleb! Terciumlah bau anyir darah dikelas ini.
Read More

Thursday, March 17, 2016

Unknown

Diculik Oleh Makhluk Halus Wewe Gombel

Para pencinta cerita misteri perkenalkan nama saya, Luki Saepudin,pangilan akrab saya uki. Kali ini

saya akan berbagi kisah nyata misteri, yang mana kisah nyata ini diceritakan oleh nenek saya kepada saya, ketika saya masih duduk dibangku kelas 6 SD.

Dulu nenek punya anak laki-laki pertama dari 7 bersaudara, namanya Dadan. Ketika dadan berusia 9 tahun, waktu itu dadan sedang bermain sama teman-teman seusianya. Namun tidak seperti biasanya sudah hampir menjelang magrib dadan belum pulang juga. Sontak nenek pun jadi cemas dan khawatir.

Segera saja nenek mencari dadan dan menanyakan ke teman-teman nya, tapi kata teman-teman nya dadan sudah pulang kerumah. Nenek pun bertambah bingung kemana dadan perginya, pada waktu itu nenek tingal di pedesaan dimana penduduknya masih belum padat dan cenderung tempatnya masih banyak pepohonan besar yang terbilang cukup angker. Sampai larut malam pun dadan belum juga ditemukan.

Tak henti-hentinya nenek terus menangis, pada waktu itu kakek saya sama Pak RT dan warga setempat terus melakukan pencarian. Singkat cerita pencarian sudah hampir 1 minggu tapi dadan belum juga ketemu. Akhirnya salah satu warga mengusulkan kepada kakek saya untuk menemui sesepuh adat setempat yang dikenal kata orang mempunyai ilmu silat dan ilmu kebatinan, singkat cerita kakek pun datang menemui sesepuh adat dan menjelaskan apa yang terjadi.

Alangkah kagetnya kakek, kata sesepuh adat. Dadan hilang dibawa wewe Gombel dan kata sesepuh adat tunggu saja sampai beberapa hari ke depan, dadan akan pulang kembali ke rumah. Setelah hampir 2 mingu menghilang akhirnya dadan kembali kerumah.


Diculik Oleh Makhluk Halus Wewe Gombel

Paginya nenek menemukan dadan dalam keadaan tertidur diluar, didalam sebuah kurungan yang besar tempat ayam jantan atau ayam pelung berjemur, setelah bangun dadan bercerita bahwa dia dibawa jalan-jalan sama makhluk yang menyeramkan. Setelah itu semingu kemudian dadan jatuh sakit dan akhirnya meningal dunia. Nenek sangat terpukul sekali, tapi nenek juga berusaha untuk tetap tegar.
Read More